Minggu, 16 Juni 2013

Puisi


Sejumput asah
Karya Muhammad Rifa’i

Seribu bahasa cinta telah ku lantunkan
untuk memikat cinta nan suci itu
Ketika  kata muntiara  kehidupan ku jabarkan kepadamu
Kau pun membalasnya dengan senyuman semanis madu
Terlena sudah jiwaku dalam kegelisaan kasih sayangmu
Hatiku kini menjadi dalang yang menginginkan kau singga didalamnya
Untuk melukiskan kata kata cinta disetiap dinding hatiku
Untuk mengukir berjuta rasa kedalam jiwa ragaku
Agar dalam kerinduaan ini keabadian rohman dan rohim-Nya
 selalu menjadi sahabat disetiap langkah dan hembusan nafasku
Duhai bertapa hati tidak bermuram durja dalam kubangan cinta
Kau terlalu indah untuk ku miliki
Kau terlalu sempurna dimataku
hingga bibir ini tak mampu menjabarkan perasaan yang hadir karena-Nya
Sunggu kau tau perasaanku
Namun apalah daya
Harapan hanyalah kekosongan
yang mengilahkan pikiran untuk mengorbankan peraaan orang lain
Membuang semua rasa demi kesatuan cinta yang hakiki
Biarlah hanya tuhan dan dirimu yang mengetahui
tentang keridoan kasih sayang-Nya
yang kini mengakar dalam hatiku
Tentang kecintaan dalam hati yang dicipta untuk kita

Jumat, 07 Juni 2013

Puisi

Terkikis sudah
karya Rifa'i

Derai air mata ku tak henti mengucur perih goresan luka
sayatan pisau cinta mu membuat tangis dan pedih membaur dalam jiwaku
Duhai Cinta
inikah wujud mu menjelma dalam layar ku bentang
terhantam badai kedukaan
terhempas pada dasar laut kesengsaraan
arah ku hilang
kekokohan ku musnah raungan ku tiada lagi terdengar
terendap bersama lara dalam jiwa
hadir ku sendiri
di antara deras rintik hujan bertubi
tangis ku tak mampu lagi menawar di sisi
harus kemana arah rindu ku ini saat hadir mu hanya mampu menyakiti
hati ku telah patah
hati ku hancur laksana debu yang berhamburan
tlah kau dustai semua
percaya dan setia yang ku jaga
janji tinggal dusta
Sajak dan bait bait harapan pun sirna 
Dan hanya pada waktu ku pasrah kan semua...
biarkan masa yang menawar luka,hari ini atau esok
Dan Biarlah harap itu bermekaran seperti sedia kala
sampai pada waktunya

Puisi

Desiran

Dipucuk daun angin berayun
Membawa malang dalam angan
Rasa ingin ku kenang
Namun menghilang
Hanya desiran diatas pohon
Tanganku berayun menangkap surya
Terlihat caya kuning melebar
Layar berkibas
Perahu yang membawamu
telah kembali
entah ke mana
desiran laut mendorongnya ke ujung dunia
Engkau tidak ngerti jua
Duduk dan pahamilah
Ombak yang pulang dan pergi.
Seperti engkau
Sedang ku disini
Berdiri di pantai
Menantikan
Berharap
Siapa tau
Seseorang akan datang
Menjawab rinduku

Karya: Muhammad Rifa’i